Mantan wartawan majalah Tempo, Farid Gaban, pernah mengurai tujuh elemen tulisan bagus.

Ia menyebut kalau karya tulis yang baik itu seperti tarian burung camar: ekonomis dalam gerak, tangkas dengan kejutan, simpel, dan juga elok.

Kalau diungkapkan ke masa kini, mungkin mirip lah dengan penyanyi Sherina Munaf. Menarik tapi tak berlebihan. Simpel juga bisa menggelitik, seperti salah satu tweet-nya ini:

Kembali ke elemen tulisan yang penting diperhatian dari Farid Gaban; ia memang menyusunnya dari sudut pandang praktik jurnalistik.

Maka itu ia pun menyebut kalau karya tulis jurnalistik yang baik merupakan ramuan keterampilan reporter menggali bahan di lapangan, dan kepiawaian redaktur memolesnya hingga menjadi “hidup”.

Walau fokus pada praktik jurnalistik, bukan berarti elemen-elemen ini tidak bisa diterapkan pada model penulisan lainnya.

Jadi, apa saja tujuh elemen itu?

1. Informasi atau pesan

Alih-alih bahasa, bobot informasi lah yang merupakan pondasi penulisan efektif. Jadi bukan kemampuan merangkai kata yang penting, melainkan detail informasi yang lengkap, spesifik, dan akurat.

2. Signifikansi atau nilai penting

Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Ia bisa mengingatkan pembaca pada sesuatu yang menyentuh emosi mereka, mengancam kehidupan, kesehatan, atau kemakmuran mereka.

Ia pun memberi informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca; dan membawa pembaca memahami apa yang sedang, telah, dan akan terjadi terkait topik yang ditulis.

3. Fokus, ringkas, dan padat

Menulis pendek mungkin terdengar mudah, tapi banyak yang sudah mencobanya merasakan bahwa menulis ringkas itu sulit.

Maka sangat penting untuk fokus pada satu hal atau ide; mengisahkan tentang seorang serdadu atau korban, bukan pertempuran. Menceritakan tentang seseorang, bukan kehidupan.

4. Konteks

Letakkan kepingan-kepingan informasi pada perspektif yang tepat, sehingga enak diikuti, dan pembaca merasakan aliran kisah dari awal hingga akhir, tanpa timbul kesan meluas atau lari kemana-mana.

5. Wajah

Manusia pada dasarnya suka membaca cerita tentang manusia lainnya. Maka itu, jika menyajikan gagasan atau peristiwa, entah itu tren sosial, sains, teknologi, ekonomi, atau politik, bawa pembaca berkenalan dengan manusia lain di dalam gagasan atau peristiwa itu.

Karya tulis yang efektif memiliki jarak yang tepat dan membiarkan pembacanya “bertemu” dan “berkenalan” dengan manusia lain di dalam sebuah gagasan atau peristiwa.

Soal ini, penulis Mark Twain pernah berujar:

Don’t say the old lady screamed. Bring her on and let her scream.

6. Narasi atau bercerita

Bikin ia mengalir seperti cerita. Penyajian paling pas untuk penulisan ini adalah narasi.

Tulisan narasi yang bagus memerlukan informasi detail, agar bisa dirangkai dengan lengkap sesuai dengan pola penulisan narasi.

Baca juga: Mengenal jenis penulisan narasi

7. Suara

Dalam poin ini Farid Gaban mengingatkan kita agar tak lupa, meski tulisan bagian dari komunikasi massa (apalagi di era media sosial yang interaktif seperti sekarang), kegiatan membaca tetap bersifat pribadi.

Maka penting bagi penulis untuk menulis seperti bertutur pada seorang pembaca. Hal itu bisa bikin tulisan jadi lebih mudah diingat si pembaca; karena ilusi bahwa si penulis sedang bercerita langsung padanya.

Tantangan untuk bertutur ini adalah mengatur warna suara atau intonasi, juga irama ke dalam tulisan lewat pemilihan kata dan penekanan makna.

Banyak lah berlatih, karena makin sering menulis, tambah terbiasa dan mudah pula kita menata “suara” pada tulisan.


Kesimpulan:

  • Mantan wartawan majalah Tempo, Farid Gaban, pernah mengurai tujuh elemen tulisan yang bagus dari sudut pandang jurnalistik. Meski begitu, elemen tulisan yang dibahas tetap bisa dipakai untuk model penulisan lain.
  • Tujuh elemen tulisan bagus adalah: Informasi, signifikansi, ringkas, memiliki konteks, wajah, suara, dan disajikan dengan aliran cerita.

Sumber foto: filmescape.com

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry