Sebagian orang mungkin menganggap jurnalis sebagai profesi yang menyenangkan. Apalagi bagi para mahasiswa yang baru menempuh pendidikan di bidang jurnalistik. Peluang ketemu tokoh idola dan nonton konser gratis seperti di depan mata.

Ada juga yang tidak antusias dan menyimpulkan kalau jadi wartawan itu sulit. Bukan hanya karena upahnya dikabarkan kecil padahal kerjanya melelahkan, tapi juga seperti ada tuntutan tahu banyak hal, pintar, dan mesti punya kemampuan berkomunikasi yang mumpuni.

Keduanya bisa benar, bisa juga tidak. Yang jelas untuk mengetahui pasti seperti apa rasanya jadi seorang jurnalis ya langsung merasakannya sendiri. Mendengar berbagai cerita saja tak akan cukup untuk memahami sensasi jadi seorang wartawan.

Nah, untuk para mahasiswa yang baru saja lulus dan ingin menjadi jurnalis, berikut ini beberapa hal yang bisa diperhatikan sebelum terjun sebagai wartawan pemula:

1. Siapkan amunisi

Maksudnya bukan pelor untuk senjata api, tapi memperkaya diri dengan berbagai informasi. Caranya bisa beragam; mulai dari banyak membaca buku, mengikuti berbagai berita dan topik terhangat lewat media internet, sampai membiasakan diskusi tentang beragam topik dengan berbagai orang.

Jika sudah terbiasa seperti ini, saat nanti turun ke lapangan sebagai wartawan kita akan terbiasa mengumpulkan bahan pendukung dulu sebelum melakukan reportase. Bahan-bahan itu adalah amunisi. Karena prajurit bisa kewalahan di medan perang kalau tidak punya amunisi yang cukup.

Amunisi jurnalis ini tak hanya untuk reportase peristiwa atau topik tertentu saja, tapi juga untuk persiapan wawancara dengan narasumber. Selalu cari tahu dulu profil narasumber yang akan ditemui. Minimal cari informasinya di internet.

Usai wawancara jangan lupa pastikan lagi nama lengkap serta titel atau jabatannya. Jangan lupa bertukar nomor telepon, karena bisa jadi amunisi tambahan jika nanti ada pertanyaan tambahan yang perlu diajukan.

2. Berkenalan dengan wartawan lain

Seperti di kampus, kalau kita kurang luwes bergaul, bisa jadi jejaring pertemanan kita itu-itu saja. Sehingga informasi yang beredar dan kita terima hanya dari lingkaran pertemanan itu. Memperluas pergaulan bisa membuka peluang lebih banyak informasi sampai di telinga kita.

Begitu pula di lapangan, saat seorang jurnalis bertugas. Kita perlu lincah berkenalan dan menjalin pertemanan dengan wartawan lain yang berada di lokasi tugas.

Tak hanya menambah relasi yang bisa bermanfaat di masa depan, tapi juga bisa bikin kita jadi lebih paham seluk beluk persoalan yang jadi sasaran reportase, karena kemungkinan terjadinya diskusi dan pertukaran informasi dengan para wartawan lain.

3. Beradaptasi di tempat peliputan

Media cetak maupun daring (online) biasanya memiliki dua jenis pewarta yang diturunkan ke lapangan: yaitu, jurnalis yang (istilahnya) ngepos, dan wartawan floating atau penugasannya berpindah-pindah.

Kalau nanti jadi jurnalis dan langsung dikasih posisi di pos tertentu maka beruntunglah kita, karena bisa fokus pada pos dan isu di seputar pos itu, juga tidak perlu capek-capek berpindah tempat liputan.

Pos di sini contohnya: gedung DPR, markas besar Kepolisian Republik Indonesia, kantor kementerian, pengadilan tinggi, atau bursa saham.

Jika langsung mendapat tugas ngepos, yang pertama bisa dilakukan adalah berkenalan dengan wartawan lain yang sudah lebih dulu berada di sana. Karena pewarta yang ngepos biasanya membentuk wadah sendiri, seperti Forwaka (Forum Wartawan Kejaksaan Agung) atau Forwatan (Forum Wartawan Pertanian).

Selain itu kita juga mesti mengenal kepala Hubungan Masyarakat (Humas) dari lembaga, instansi, atau organisasi terkait. Bahkan siapa saja petugas yang sehari-hari berdekatan dan berinteraksi dengan wartawan yang bertugas di pos tertentu.

Pokoknya bangunlah hubungan baik dengan semua orang di sekitar lingkungan itu, karena kita tidak pernah tahu kapan kita benar-benar membutuhkan mereka atau kapan mereka memberikan bantuan yang tak kita duga.

Tapi kalau ditugaskan jadi pewarta yang floating atau berpindah-pindah tempat peliputan, sebaiknya memang kita memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik juga cepat; terutama dengan wartawan yang memang ngepos di lokasi.

Jangan sedih, kalau wartawan pos punya wadah sendiri, jurnalis floating pun punya pilihan untuk masuk ke dalam kelompok yang biasanya disebut “anak-anak wilayah”. Mereka ini adalah sesama wartawan floating dari satu area atau wilayah tertentu.

Misal jurnalis wilayah selatan yang fokus pada berbagai titik di Jakarta Selatan, termasuk pos-pos seperti Mabes Polri, Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Selatan, Kementerian Perumahan Rakyat, dan berbagai titik lainnya di area itu.

4. Diskusi dengan editor

Oke anggaplah kita sudah menguasai lapangan, hal lain yang perlu dicermati berikutnya adalah di lingkaran kantor. Di berbagai kantor media massa, entah cetak pun online, biasanya wartawan bekerja di desk, kanal, atau rubrik tertentu, misal: kriminal, politik, ekonomi, atau sepakbola.

Tiap bagian itu biasanya juga dipimpin oleh seorang editor yang di beberapa media dibantu juga oleh koordinator peliputan atau koordinator lapangan. Maka, kenali dan jangan hanya melihatnya sebagai atasan, tapi juga kawan diskusi, karena kita tentu bisa memetik banyak pelajaran berharga dari editor.

Jika ada yang kurang kita pahami, tanya. Kalau ada hal yang kita ragukan ungkapkan dan bahas. Komunikasi yang baik di antara editor dan wartawan atau penulis hampir selalu pasti akan berujung pada hasil pekerjaan yang apik.

5. Gigih!

Jadilah orang yang gigih, ulet, dan pantang menyerah. Jangan lembek dan mudah mengeluh. Wartawan mesti tangguh, tak hanya fisik yang sehat, tapi juga tekad yang kuat.

Pekerjaan seorang wartawan mungkin sekali menyerempet bahaya, melelahkan, bahkan mungkin tak mengenal hari libur. Untuk menjalaninya secara konsisten perlu semangat dan gairah yang tidak biasa.

Ada ungkapan yang menyebut kalau menjadi wartawan itu bukan pekerjaan, tapi panggilan. Gaji atau upah tentu penting, tapi biasanya bukan hanya itu yang penting untuk seorang pewarta. Ia kerap melihat sesuatu yang lebih besar, bisa jadi lebih penting, biasanya untuk kepentingan banyak orang.

Kalau merasa lima poin di atas bukan masalah, sepertinya pilihan jadi wartawan sudah tepat. Tidak perlu banyak berpikir, langsung terjun saja ke lapangan, beradaptasi, jalani dengan tekun, hingga kemudian berkembang secara bertahap. Siap?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry