Apapun bidang komunikasi yang kita geluti saat ini, entah itu jurnalistik, periklanan, atau kehumasan, merilis konten lewat media internet dan mengupayakan kemasan yang menarik agar memikat perhatian audiens hingga akhirnya menjaring banyak pengunjung ke website sudah jadi lumrah.

Para jurnalis yang memiliki kabar dan cerita penting memikirkan ini agar jangkauan pembacanya luas. Kegiatan periklanan mempertimbangkan hal ini untuk memastikan efektivitasnya. Kehumasan pun mengharapkan pesannya tersebar luas hingga meningkatkan kemungkinan dampak yang diinginkan.

Dari berbagai obrolan dan pengamatan, ada beberapa karakteristik konten yang konon diminati banyak orang:

  • Memiliki alur cerita (naratif);
  • Berlawanan dengan asumsi atau keyakinan;
  • Atau sebaliknya, menguatkan asumsi atau keyakinan;
  • Membongkar rahasia;
  • Inspiratif;
  • Mengandung tip atau kiat praktis;
  • Membuat kita tersenyum atau tertawa;
  • Memuat fakta yang tak terduga;
  • Mengharukan.

Konten yang memiliki setidaknya salah satu dari karateristik di atas berpeluang menyenangkan atau memuaskan pembacanya, setelah mereka mengaksesnya lewat sebaran di media sosial atau broadcast message di aplikasi messaging seperti WhatsApp.

Selain itu, tiap konten yang dibuat tidak melulu mesti berbentuk artikel biasa. Ada beberapa tipe atau format materi yang meski (bahkan) tak memiliki salah satu dari karakteristik di atas, bisa tetap menarik sasaran pembaca untuk mengikutinya. Apa saja?

1. Infografis

Tipe konten yang merupakan visualisasi data ini bisa dibilang sedang populer beberapa tahun terakhir. Berbagai penelitian dan pengamatan menyatakan kalau infografis potensial menarik banyak pengunjung dan sebaran, bahkan cenderung disukai ketimbang jenis konten lain.

Untuk membuat infografis, diperlukan desainer grafis; karena selain bobot data atau informasi, desain yang bagus dan enak dilihat menentukan kekuatan tipe konten ini. Infografis cocok untuk menampilkan informasi seperti data, hasil riset, atau statistik yang njelimet jadi enak untuk diikuti.

Infografis dari Beritagar.id/Antyo Rentjoko

2. Meme

Salah satu kekuatan utama tipe ini adalah kualitas humor, dan kebanyakan orang menyukai sesuatu yang bisa membuat mereka tertawa. Meme tak hanya (biasanya) lucu, tapi juga potensial untuk mendapatkan sebaran tinggi di saluran seperti media sosial.

Secara teknis, meme tak sulit untuk dibuat. Siapapun bisa membuat meme. Layanan seperti Meme Generator dan Quick Meme membuatnya jadi lebih mudah karena kita tinggal mengunggah gambar dan menyematkan teks pada format yang sudah lazim digunakan untuk menerbitkan meme.

Memang, tipe ini bukan model konten yang cocok ditempatkan di mana saja, misal: di website resmi perusahaan atau organisasi yang “serius”. Bahkan, untuk beberapa brand penggunaan meme bisa jadi malah merendahkan value mereka di mata publik.

Tapi jika tidak ada persoalan khusus yang menghalangi untuk sesekali bergurau lewat media sosial, maka tipe ini bisa jadi pilihan.

3. Video

Keunggulan tipe ini, tanpa perlu dipertanyakan lagi adalah kombinasi audio visual. Bentuknya pun beragam dan bisa dipilih sesuai pesan yang ingin disampaikan, bisa peliputan, dokumenter, komedi, explainer, bahkan tip ringkas.

Dari sisi teknis dan skill yang dibutuhkan, video bisa dibilang tipe konten yang paling sulit dan dikenal relatif mahal. Tapi jika digarap dengan baik, memang potensial menarik dampak yang dibutuhkan.

Salah satu komponen penting video di internet adalah durasi; biasanya rata-rata video yang berdurasi dua sampai tiga menit masih enak diikuti.

Urusan durasi ini memang mesti dicermati, karena menetapkan video dengan durasi sampai 10 menit atau bahkan lebih bisa bikin mata penonton lelah karena terlalu lama menatap layar; meski faktor penentunya tetap daya tarik topik atau materi isinya.

Kalau dasarnya memiliki muatan yang menarik, soal durasi bisa jadi bukan persoalan. Bahkan banyak media atau brand (secara kreatif) mengoptimalkan channel seperti Instagram atau Vine yang mengurung durasi hanya dalam hitungan detik.

4. Guide

Maksud tipe ini bukan seperti artikel tip yang biasa kita lihat pada artikel di media online, tapi lebih merujuk pada materi panjang dan menyeluruh tentang cara melakukan sesuatu.

Contoh penerapan tipe konten Guide oleh Contently.

Kalau disajikan sebagai konten di website, biasanya berbentuk satu artikel panjang, atau dipecah menjadi serial. Pilihan lain adalah mengoptimalkan tipe ini dalam format ebook atau PDF, yang akhirnya menjadi semacam buku yang ingin kita miliki karena memandu kita terkait hal yang kita butuhkan.

Teknis produksi Guide tergolong rumit; selain butuh ide yang kuat, juga membutuhkan setidaknya tim kecil yang terdiri dari penulis dan desainer grafis.

5. Opini

Pendapat atau pandangan personal, terutama terkait topik hangat atau isu besar, bisa menarik perhatian publik. Logika sederhananya, orang cenderung selalu ingin tahu tentang apa kata orang lain.

Faktor penting selain topik hangat atau isu besar adalah siapa yang mengungkapkan opini. Kebanyakan orang (misalnya) pingin mendengar apa pendapat presiden tentang kelompok yang membencinya, atau pandangan pengamat fashion tentang gaya berpakaian salah seorang selebriti.

6. Ulasan Produk

Tipe yang lazim disebut review ini potensial menarik minat publik karena memiliki kemungkinan untuk membantu mereka mengambil keputusan sebelum mengonsumsi atau memilih produk tertentu.

Dalam sehari kita hidup di sekitar produk yang entah ada berapa banyak. Semua produk itu tidak selalu seperti adanya; ada kemungkinan habis, rusak, atau hilang. Atau kita justru ingin menambahkan lagi produk baru ke dalam kehidupan kita.

Apapun alasannya, biasanya kita dihadapkan pada banyak pilihan di pasaran. Harga bisa bersaing, kualitas pun relatif, hingga ada kecenderungan kita membutuhkan bantuan tambahan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala kita; dan konten semacam ulasan produk adalah salah satu jalan keluarnya.

Secara teknis, review bisa disuguhkan dalam bentuk artikel bedah produk, komparasi dengan barang sejenis, atau bahkan video uji coba.

7. Kiat

Kalau pada tipe Guide kita merujuk pada jenis panduan panjang dan lengkap, tipe Kiat lebih pada materi ringan, ringkas, dan praktis; biasanya bisa langsung dicoba atau diterapkan. Resep bikin nasi goreng atau cara mengubah fail dari format Word menjadi PDF termasuk golongan tipe ini.

Pada pembuatan Kiat usahakan untuk menyusunnya semudah mungkin untuk diikuti pembaca. Instruksi dan tahapannya jelas, bahkan lebih bagus lagi kalau dilengkapi gambar pada tiap langkah kegiatan yang disajikan.

8. Daftar

Di dunia penerbitan internet kini ada istilah populer untuk tipe konten ini: Listicle (artikel yang menyajikan list —daftar); situs seperti Buzzfeed konon menjadi besar karenanya. Di Indonesia, beberapa situs pun menerapkannya hingga mendapat arus pengunjung yang besar pula.

Teknis penyajian yang menonjolkan jumlah daftar seperti ini sebetulnya sudah lama diandalkan industri majalah. Pada sampul majalah, teknik ini lazim digunakan pada cover blurb (deskripsi singkat tentang artikel unggulan di cover).

Cara membuatnya relatif sama dengan penggarapan artikel pada umumnya, tapi kunci utama pada tipe konten ini adalah: tentukan angka yang ingin ditampilkan. Lalu teknis penyajiannya juga lazim menggunakan susunan poin atau angka; deskripsi tiap daftar bisa ringkas, atau panjang, tergantung tipe media dan karakteristik pembaca yang disasar.

Trik kecil untuk memainkan tipe ini adalah menggunakan angka yang memiliki makna; misal: “17 Alasan Kita untuk Lebih Mencintai Indonesia” untuk diterbitkan pada tanggal 17 Agustus dan terkait hari kemerdekaan Republik Indonesia.

9. Kompilasi

Faktor utama dari tipe ini adalah proses kurasi. Karena tipe ini menyajikan kumpulan konten pilihan yang dibingkai dalam tema tertentu. Contoh: “7 Berita Terpopuler Pekan Ini”, atau “5 Topik yang Paling Ramai Dibicarakan di Media Sosial pada 2015”.

Pada media online, kompilasi biasanya disajikan dalam bentuk daftar dan sinopsis konten yang dipilih, lalu disematkan tautan ke sumber terkait.

contoh kompilasi konten

Contoh tipe konten kompilasi pada situs International Journalists Network.

Jenis ini kerap dirasakan menarik oleh sasaran pembaca karena membuat mereka ingin memastikan mereka tidak tertinggal kabar atau informasi penting terkait topik yang mereka minati. Selain itu, mungkin mereka sibuk hingga tak sempat mengikuti isi situs dalam periode harian.

Sehingga jika mereka mengetahui situs favorit mereka menyediakan kompilasi artikel terbaik selama sepekan, maka kumpulan rekomendasi pada satu artikel ini membantu mereka mengakses konten yang dibutuhkan secara praktis, tanpa perlu menyusuri satu per satu.

10. Studi Kasus

Pada kategori media atau konten yang relatif serius dengan karakteristik pembaca serupa, tipe studi kasus jadi daya tarik. Karena studi kasus idealnya memang membahas sesuatu berdasarkan hal yang benar-benar terjadi; sehingga membuatnya jauh dari kesan menampilkan informasi yang mengambang.

Logika sederhana studi kasus adalah:

  • Apa yang terjadi?
  • Apa yang dilakukan agar hal itu terjadi?
  • Apa hasil yang didapatkan dari kejadian itu?

Lebih dalam lagi, studi kasus bisa jadi materi yang rumit dan kompleks. Penggarapannya membutuhkan data dan informasi yang lengkap. Dan mesti disusun secara rapi dan memikat agar mudah diserap dan dipahami.

Dalam penerbitan populer, tipe studi kasus kerap juga disederhanakan menjadi: Success Story.

11. Wawancara

Kalau opini memancing kita untuk mengetahui pandangan atau pendapat orang tentang sesuatu, begitupun tipe konten wawancara. Perbedaannya, pada wawancara, tokoh atau figur yang menyatakan pandangan atau pendapat tidak bicara langsung, tapi menjawab pertanyaan dari pelaku wawancara.

Wawancara selalu memiliki daya tariknya sendiri, karena cara mengemasnya pun bisa digali secara kreatif. Misal, didukung dengan foto si narasumber yang ditampilkan secara artistik, atau plot penyajian yang dibaur dengan tulisan pelengkap untuk mendramatisasi hasil wawancara. Format seperti audio atau video pun bisa jadi pilihan untuk menerapkan tipe ini.

12. Hasil Riset (Data Orisinal)

Pada tingkat penggarapan konten yang serius, tipe yang menyajikan hasil riset berupa data orisinal bisa dibilang menempati posisi atas. Karena pengerjaannya jauh dari mudah. Tak hanya secara teknis, tapi juga terkait waktu produksinya.

Contoh penerbitan hasil survei oleh majalah Esquire (Amerika Serikat).

Konten ini potensial menjaring pengunjung, karena banyak orang cenderung ingin tahu tentang kesimpulan pendapat dari sekelompok responden tentang suatu hal; biasanya untuk lebih memahami hal tertentu. Makin detail teknik penggarapannya dan makin banyak respondennya, makin besar pula daya tarik temuannya. Topik materi pun tetap memegang peranan penting.

Jika menyajikan tipe ini, jangan lupa terangkan juga metode pengumpulan data, profil umum responden (asal, usia, dan jenis kelamin), dan kapan pengumpulan data dilakukan; untuk memastikan pembaca mendapatkan informasi yang terang dan jelas saat memahami materi.


 

Begitulah beberapa tipe konten yang potensial menjaring pengunjung ke situs atau saluran media yang dikelola. Menerapkan salah satu saja, dengan eksekusi yang mumpuni, kemungkinan besar sudah bisa berdampak baik pada kualitas konten kita.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry